Gema Swaratyagita Bicara tentang “kreasi dan modifikasi” Perkusi Bambu

 

 

 

     Kali ini Total Perkusi menghadirkan dan mewawancarai seorang sosok komponis, pianis, guru, dan salah seorang peraih Empowering Woman Artists Kelola 2012-2013 yaitu Gema Swaratyagita yang berasal dari Surabaya. Obrolan mengenai inspirasi dan ide “memodifikasi dan kreasi” instrumen perkusi bambu yang dibuat dan digunakan dalam sebuah pementasan karyanya “Laring 2”, setidaknya ada lima alat perkusi  hasil modifikasi dan kreasi yang dibuat untuk memenuhi ide komposisinya dan artistiknya. inilah cuplikan wawancaranya.

Angklung Pukul

angklung-pukul

Total Perkusi        : Bisa diceritakan awalmula terciptanya angklung pukul?

Gema Swaratyagita: Bermula dari ketertarikan untuk mengekplorasi bunyi angklung  dan memodifikasi angklung dengan menggunakan tabung angklung, awalnya ada beberapa ekplorasi yang telah di rancang untuk dicoba tetapi pada akhirnya melihat pemain yang akan memainkannya yang ternyata seorang pemain marimba, dimana pemain tersebut sering menggunakan tabuh mallet, sehingga bunyi yang dihasilkan bisa maksimal.

Total Perkusi  : laras atau skala apa yang digunakan dalam angklung pukul?

Gema Swaratyagita : ada dua wilayah skala yang susun. Skala pertama yang bagian atas adalah kromatik dan yang bagian bawah adalah diatonik. Tidak ada tujuan khusus mengapa saya menggunakan skala tersebut, yang bagian atas lebih luas dan bagian bawah lebih berfungsi sebagai bass. idenya saya menggunakan angklung kemudian memodifikasi dan menyesuaikan dengan kemampuan pemain, sehingga bisa memaksimalkan kemampuan pemain dan tidak hanya sekedar memainkan apapun tetapi sesuai dengan kapasitas pemain.

Badikul (Bambu diPukul)

badikul

 

      Ide instrumen badikul (bambu dipukul) awalnya ketika residensi di cicalengka di tempatnya Abah Olot (pembuat karinding dan celempung). Model bentuk bentuk instrumen tabung sudah banyak digunakan contohnya seperti kelompok Perkusi “Blue Man” dengan menggunakan pipa tetapi instrumen pipa tersebut bernada, termasuk juga dengan Abah Olot yang menggunakan pentatonis. Saya sendiri membuat alat badikul ini dengan nada yang dibuat acak tanpa berpatokan ke diatonis atau pentatonis. Tapi lama lama pada akhirnya bisa menemukan pola dan modus  yang “enak”. Tabuhnyapun mengalami perubahan dari berbagai ekperimen mulai dari penabuh yang terbuat dari sandal sampai pada akhirnya membuat dan menemukan tabuh yang pas dengan badikul. 

 

Klotokan

klotokan

      Instrumen Bambu Klotokan ide awalnya muncul ketika membuat karya sebelumnya yaitu “laring 1”. Sempat membuat bambu yang dipotong-potong sekitar 2 cm dengan jumlah sangat banyak yang dimasukan kedalam sebuah baskom sehingga menimbulkan bunyi klotok  klotok. Saya ingin mengunakan bunyi tersebut dijadikan dalam bentuk baru yang tidak hanya didalam baskom. Saya melakukan banyak percobaan dan berdikusi dengan pembuat bambunya untuk menghasilkan berbagai kemungkinan termasuk dengan menggunkan material lainnya seperti triplek tetapi bunyinya tidak maksimal, walaupun dalam bentuk alat baru. Sampai  akhirnya muncul pikiran dari pembuat bambu tersebut bagaimana kalau ada pukulan didalam bambu itu sendiri. Dari empat buah yang kita buat hanya dua  buah yang jadi walaupun bunyinya sama tetapi jangkauan laras yang berbeda yang satu bunyi  tinggi dan dan satu lagi bunyinya agak rendah sedikit, karena dihasilkan oleh perbedaan panjang bambu yang digunakan. Instrument bambu krotokan ini berfungsi  sebagai efek bunyi.

Markol (Maracas Kohkol)

 

Markol

      Idenya ketika aku melihat kohkol buncis (keluarga slit dum/kentongan berasal dari sunda Jawa Barat yang terbuat dari bambu). Saya bertemu mang Akim dari taman budaya bandung gimana bisa nggak bunyi kohkol ini didalamnya ada maracas sehingga bisa berbunyi bersamaan ketika dipukul. Sempat eksplorasi bersama mang Akim tetapi beberapa kali gagal karena bunyi maracas yang  “cek cek cek” kalah sama dengan bunyi attack “tok” kohkol. Akhirnya jadi tiga tetapi sekitar dua buah yang jadi itupun belum maksimal karena bambu hitamnya  tebal tetapi suaranya tidak keluar begitu pula ketika dibuat tipis bunyinya tidak tak juga, akhirnya ditempelin botol yakult diisi beras sehingga bunyinya “cek cek cek”. Tabuh yang digunakan juga berpengaruh terhadap kualitas bunyi, karena kalau tabuh terlalu keras bunyi yang dihasilkan hanya “tak” saja tetapi kadang kalau pakai tangan tangan suara “tak”nya lebih bagus.

 

Bambu Lidi

bambulidi

      Saya melihat alat yang serupa dengan bambu lidi ketika residensi juga, tetapi berbeda karena bentuk yang saya lihat memang seperti lidi kecil-kecil saya membayangkan suaranya lebih “cek cek cek … “tapi pas dicoba tidak seperti itu bu”crek crek crek..”.  Analoginya jika sapu lidi tersebut rapat tidak akan mengahasilkan efek bunyi “crek crek crek” sehingga perlu di modifikasi di buat lebih lebar dan tidak rapat sehingga efek bunyi “crek .. crek ..” bisa dihasilkan.

Total Perkusi: kok bisa kepikiran untuk membuat intrumen Perkusi berbahan bambu?

Gema Saratyagita:  Awal terpikir tentang bambu bermula tiga tahun yang lalu ketika ditawari oleh LSM pembudidaya bambu untuk memodifikasi bambu. Bambu yang sebelumnya digunakan sebagai kriya bisa digunakan di  musik. Awalnya saya “blank” , memang saya tidak ada hubungan dengan bambu apalagi Perkusi. Berawal dari tawaran tersebut saya mulai riset mencari informasi dimulai dengan bertanya ke teman – teman perkusi, saya pergi ke Banyuwangi dan Malang untuk bertemu pembuat dan bertanya  bisa diapakan sih bambu itu?, Bambu itu seperti apa?, perawatan bambu seperti apa? Kemungkinan bunyi seperti apa?. Puncaknya saya residensi tahun lalu dan tidak hanya melihat bambu dalam bentuk organologi bambunya  saja tetapi juga filosofi bambu itu sendiri seperti bambu itu kuat tetapi juga luwes, bagaimana dengan air juga yang kata orang mistik padahal bisa sangat ilmiah sekali, nah itu awal mulanya. Saya sempat  belajar membuat angklung  dan karinding karena banyak atau istilahnya banyak sekali pengrajin pada akhirnya yang mengdiskreditkan pemain ataupun komponis bahwa kamu nggak bakalan bisa, sehingga saya harus tahu sendiri walaupun aku bukan tukang paling tidak untuk menala angklung sehingga bisa mengetahui alasannya kenapa.

Total Perkusi: bagaimana proses kreatif musikalnya?

Gema Saratyagita: Harus banyak mencoba dan mencoba risetnya bolak balik juga dengan alat-alat perkusi itu juga, terutama pemainnya. Prosesnya jamming, bagaimana mendapatkan tidak hanya improvisasi tetapi sesuai partitur juga.

 Total Perkusi: bagaimana pendekatan untuk mendapatkan rhythm, timbre, dan teknik yang digunakan dalam alat hasil kreasi yang kamu buat?

Gema Saratyagita: lebih banyak ke teknik karena misyalnya satu alat baik itu alat baru atau bukan baru biasanya ada sessi khusus antara aku dan pemainnya karena aku akan mencatat kemungkinan apa kemungkinan yang paling mungkin yang bisa dihasilkan oleh alat tersebut. Saya membuat database atau daftar bunyi misyalnya bambu lidi bagaimana ketika dimainkan diatas, bagaimana ketika dibawah dan bagaimana ketika disinggungkan. Begitupula perbedaan kualitas bunyi yang dihasilkan dengan menggunakan beberapa tabuh yang berbeda mulai dari tabuh yang dibuat sendiri sampai dengan tabuh mallet.

Total Perkusi: Setelah mengekplorasi dan berkreasi membuat instrument Perkusi dan juga bersinggungan dengan pemain Perkusi, apa kesan kamu terhadap “Perkusi” itu sendiri?

Gema Saratyagita: Perkusi itu tidak sekedar memukul itu saja sih.  Bagaimana memainkan dinamik walaupun selembut apapun dan sekencang apapun. Aku melihat  padu dan keharmonisan itu dari proses pemain misyalnya seperti ketika memainkan badikul  tidak sekedar memukul tapi bagaimana saat pemain harus tepat sekali ketika memukul dan menakar seberapa kekuatan pukulan yang dihasilkan, Karena saya sering melihat permainan perkusi sekedar kelihatan cepat dan kelihatan keren setelah itu selesai, tetapi proses disini tidak seperti itu bahkan pemukulnya  dan teknik pun diperhitungkan sekalipun orang berpikir itu kontemporer  tetapi itu nggak juga sebetulnya. Cara memperlakukan alat-alat yang saya hadapi disini tidak sembarangan, itukan berasal dari makhluk hidup yang berasal dari tanaman, oleh karena itu saya memperlakukan selayaknya dan menggunakan rasa.

 Total Perkusi: Bagaimana dan harus seperti apa menurut kamu agar kultur Perkusi bisa beragam dan menambah kekayaan dan perkembangan  musik perkusi di Indonesia?

Gema Saratyagita: Saya tidak tahu pasti tetapi paling tidak perkusi itu tidak berdiri sendiri setiap alat, semakin banyak ekplorasi semakin bagus semakin banyak ekplorasi penggabungan apapun tidak hanya satu kultur dan kultur lainnya. Saat penggabungan kulturpun jauh lebih menarik  akhirnya tidak ada batas antara satu kultur  dengan kultur lainnya, kalau aku melihat saat itu bisa bergabung tidak ada lagi sekat-sekat batas melainkan lebih “bhineka  tunggal ika” dan terpenting dibutuhkan keterbukaan orang yang membuat karyanya untuk bisa menerima tidak hanya satu kultur saja, seperti mengutip apa yang dikatakan “I wayan Sadra “bebaskan bunyi dari kulturnya””

 

No comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>